Indonesia-Channel, BOGOR – Pelaksanaan Festival Merah Putih (FMP) 2026 yang memasuki penyelenggaraan ke-11 terbukti memberi dampak signifikan terhadap pergerakan ekonomi dan pariwisata di Kota Bogor.
Tak hanya sekadar gelaran seremonial peringatan kemerdekaan, FMP menjadi stimulus nyata bagi sektor UMKM, perhotelan hingga transportasi lokal.
Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kota Bogor, Arwinsyah Putra mengatakan bahwa geliat ekonomi selama rangkaian FMP berlangsung sangat terasa bagi para pelaku usaha di Kota Bogor.
“Dampak ekonominya sangat terasa. Salah satu contohnya Festival Kopi Legendaris yang mencatatkan perputaran uang hingga Rp250 juta hanya dalam kurun waktu tiga hari. Acara ini melibatkan UMKM dan warung kopi legendaris,” ucapnya seusai mengikuti upacara penaikan bendera di Tugu Kujang pada Senin, 31 Agustus 2026.
Menurutnya, FMP menjadi wadah strategis untuk mengangkat kualitas produk lokal ke tingkat nasional hingga internasional.
Ia menambahkan, sektor perhotelan, restoran bahkan agen perjalanan turut mencatatkan kenaikan lonjakan okupansi dan aktivitas selama bulan Agustus.
“Kami dari dunia usaha sangat mengapresiasi panitia, Bogor Sahabat dan seluruh pihak yang terlibat. Kegiatan yang terjaga konsistensinya selama lebih dari 10 tahun ini adalah wujud nyata gotong royong yang memang dibutuhkan Kota Bogor,” ungkapnya
Sementara itu, perwakilan Panitia Festival Merah Putih 2026, Harlan Bengardi mengungkapkan bahwa FMP tahun ini mencatatkan berbagai peningkatan skala acara dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Ia merincikan, pengunjung Festival Kopi Legendaris melonjak dari 15.000 pengunjung pada tahun lalu menjadi 20.000 pengunjung pada tahun ini, dengan total omzet mencapai Rp250 juta selama 3 hari pelaksanaan.
Peningkatan pesat juga terjadi pada agenda Kirab Merah Putih, di mana jumlah peserta melonjak signifikan dari 2.000 orang menjadi 3.400 peserta.
“Banyak peningkatan di tahun ke-11 ini. Namun, yang paling krusial adalah proses regenerasi. Saat ini kita melibatkan sekitar 100 relawan anak muda dari Generasi Z (Gen Z) dan hampir 60 persen dari seluruh rangkaian kegiatan dikelola langsung oleh mereka,” jelasnya.
Keterlibatan aktif anak muda ini dinilai Harlan sebagai jaminan keberlanjutan FMP di masa mendatang. Selain menjaga tradisi dan pergerakan ekonomi, FMP juga diproyeksikan sebagai ruang edukasi nilai-nilai kebangsaan bagi generasi muda agar tidak tergerus arus disinformasi.
“Kami ingin mencerahkan mindset anak-anak muda bahwa Indonesia adalah negara dengan potensi yang sangat luar biasa. Harapan kami, Gen Z terus memupuk rasa nasionalisme dan cinta tanah air melalui karya nyata,” katanya.**





