Pojok Muda NU Bahas Masa Depan AI, SDM Santri, dan Tantangan Dunia Pendidikan

BOGOR — Pojok Muda NU yang diinisiasi Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor (PC GP Ansor) Kabupaten Bogor menggelar diskusi bertajuk “Kecerdasan Buatan, Kecerdasan Bangsa: Siapa yang Akan Menguasai Masa Depan?” di Sekretariat PC GP Ansor Kabupaten Bogor, Minggu (9/8/2026).

 

Forum tersebut menjadi ruang dialog bagi kader dan generasi muda Nahdlatul Ulama untuk membahas perkembangan artificial intelligence (AI), peluang dan tantangan teknologi bagi generasi muda, masa depan pendidikan, serta kesiapan sumber daya manusia menghadapi perubahan dunia kerja.

 

Diskusi menghadirkan tiga narasumber dari berbagai latar belakang, yakni Dr. Daniel Zuchron, Rektor ITB Vinus Bogor; Prof. KH. Atik Bintoro, Ahli Peneliti Utama BRIN sekaligus perancang pesawat N-219; serta Dindin Abdullah Ghozali, Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat.

 

Pembahasan tidak berhenti pada persoalan teknologi. Para narasumber menekankan pentingnya penguasaan AI yang tetap berpijak pada ilmu pengetahuan, nilai kebangsaan, karakter, serta kemanusiaan.

 

Ansor Harus Dipersiapkan Menjadi Masa Depan NU

 

Mewakili PC GP Ansor Kabupaten Bogor, Suhendra menegaskan bahwa Pojok Muda NU diharapkan menjadi ruang strategis bagi kader dan generasi muda NU untuk memperluas wawasan sekaligus meningkatkan kapasitas diri.

 

Menurutnya, Ansor memiliki posisi penting dalam menentukan masa depan Nahdlatul Ulama. Karena itu, kader harus mendapatkan pendidikan, pelatihan, wawasan, serta keterampilan yang relevan dengan tantangan zaman.

 

«“Ansor ini adalah masa depan NU dan NU masa depan. Kalau hari ini Ansor tidak dididik, dilatih dan diberikan wawasan, kemampuan dan sebagainya, maka saya pastikan NU ke depan juga tidak akan lebih baik. Tapi kalau hari ini kita bina, kita didik, kita berikan wawasan, pengembangan dan sebagainya, maka saya pastikan NU ke depan akan lebih baik dan maju,” ujar Suhendra.»

 

Ia menilai keberadaan Pojok Muda NU merupakan salah satu langkah konkret untuk membangun ekosistem pembelajaran dan pengembangan kapasitas kader.

 

«“Maka dari itu NU Kabupaten ke depan akan menjadi lebih baik dengan adanya gerakan Pojok Muda NU yang diinisiasi oleh Ansor Kabupaten Bogor,” katanya.»

 

Daniel Zuchron: Santri Adalah Modal Besar SDM NU

 

Sementara itu, Daniel Zuchron menilai NU memiliki modal sumber daya manusia yang sangat besar untuk menghadapi perkembangan teknologi, yakni santri.

 

Menurut Daniel, santri memiliki karakter adaptif dan kemampuan bertahan dalam berbagai situasi kehidupan. Karakter tersebut, kata dia, menjadi modal penting untuk menghadapi perubahan teknologi, termasuk perkembangan AI.

«“Sumber daya manusia yang paling unggul itu bahan dasarnya sudah dibuat oleh Nahdlatul Ulama, yaitu santri. Santri bisa bertahan dalam berbagai medan kehidupan, ia tidak pernah ribut soal pengangguran, santri bisa bertahan dalam banyak hal,” ujar Daniel.»

Ia mengingatkan agar AI tidak ditempatkan sebagai sesuatu yang harus ditakuti. Teknologi, menurutnya, hanyalah alat yang manfaatnya sangat bergantung kepada manusia sebagai subjek yang menggunakannya.

«“AI itu sama seperti gadget, ia bisa digunakan atau tidak tergantung kita sebagai manusia. Masa kita bersandar dengan sesuatu yang secondary, sedangkan kita ini primary. Kita ini subjek, failnya itu kita, kenapa kita takut?” katanya.»

Di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat, Daniel juga menekankan bahwa peran guru dan pembimbing tetap tidak tergantikan.

Menurutnya, proses mencari ilmu tidak cukup hanya mengandalkan teknologi, tetapi membutuhkan kehadiran guru sebagai pembimbing yang memberikan arah, nilai, dan kedalaman pemahaman.

«“Guru itu harus dihadirkan, diwujudkan dalam kehadiran yang konkret, karena barangsiapa yang mencari ilmu tanpa guru, ia berguru dengan setan,” ujarnya.»

Ia menambahkan bahwa tradisi keilmuan NU memiliki konsep mursyid, yakni guru atau pembimbing yang menjadi rujukan dalam proses belajar dan pengembangan pengetahuan.

«“Karena dalam tradisi NU mursyid itu sudah mutlak, maka kiai-kiai pengurus NU ke depan harus hadir untuk menjadi tempat bertanya langsung masyarakat,” katanya.»

 

Prof. Atik Dorong Santri Menjadi Musannif

Pandangan lain disampaikan Prof. KH. Atik Bintoro. Ia mendorong santri NU agar tidak berhenti menjadi pengguna atau pengikut perkembangan ilmu pengetahuan, tetapi berani menciptakan gagasan, karya, inovasi, dan penemuan baru.

Dalam konteks tersebut, Prof. Atik menggunakan istilah “bid’ah” sebagai metafora keberanian melakukan inovasi dan menghasilkan sesuatu yang baru.

 

«“Sebagai santri NU harus berani bid’ah. Jangan ngaku NU kalau takut bid’ah, karena di NU banyak bid’ahnya. Jangan ngaku NU kalau tidak berani bid’ah,” ujar Prof. Atik.»

Menurutnya, keberanian menciptakan sesuatu yang baru akan melahirkan seorang musannif, yaitu orang yang menghasilkan karya atau gagasan yang kemudian menjadi rujukan bagi orang lain.

«“Dengan bid’ah itulah menjadi musannif. Kalau tidak bid’ah bukan musannif, dia hanya jadi pengikut,” katanya.»

Ia kemudian mengaitkan gagasan tersebut dengan tradisi tahlil dan tawassul yang berkembang di kalangan masyarakat NU. Menurutnya, para musannif, penemu, dan pengarang karya keilmuan merupakan sosok yang terus dikenang karena meninggalkan karya yang bermanfaat.

«“Kita sebagai santri harus bercita-cita jadi musannif,” tegasnya.»

Prof. Atik juga mengajak para santri melihat potensi besar dari hal-hal sederhana di sekitar kehidupan sehari-hari. Ia mencontohkan pemanfaatan limbah ternak sebagai salah satu peluang pengembangan energi.

Dalam paparannya, ia mengutip hadis tentang kambing atau domba sebagai inspirasi untuk menggali manfaat dan potensi yang terkandung di balik sesuatu yang selama ini dianggap sederhana.

Ia juga menekankan pentingnya inovasi berbasis riset dan pengembangan teknologi agar santri tidak hanya menjadi konsumen ilmu pengetahuan, tetapi mampu menjadi pencipta dan kontributor dalam kemajuan bangsa.

Amanah Kebangsaan Harus Bisa Diukur

Selain berbicara mengenai inovasi, Prof. Atik mengajak kader Ansor menerjemahkan amanah kebangsaan ke dalam ukuran yang konkret.

Ia menyinggung tiga amanah yang terkandung dalam Pembukaan UUD 1945, yakni melindungi segenap bangsa Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, dan mencerdaskan kehidupan bangsa.

Menurutnya, ketiga amanah tersebut tidak cukup hanya dibicarakan dalam tataran konsep, tetapi harus diukur mulai dari lingkungan organisasi dan kehidupan kader sendiri.

«“Hitung sejak pertama dilantik, berapa orang yang dilindungi? Tidak usah orang, cukup pengurus Ansor terlebih dahulu, rasa terlindunginya naik atau tidak?” katanya.»

Untuk aspek kesejahteraan, ia mendorong kader melihat perubahan nyata dalam kondisi ekonomi masing-masing.

«“Yang kedua meningkatkan kesejahteraan umum, berapa penghasilan pengurus Ansor? Jangan minta ke orang tua terus, jangan proposal terus. Berapa penghasilan per hari? Hitung naik apa turun?” ujarnya.»

Sementara untuk aspek kecerdasan, ia mengajak kader melihat apakah kapasitas dan wawasan mereka benar-benar berkembang.

«“Yang ketiga mencerdaskan kehidupan bangsa. Tidak usah ngomong bangsa, cukup pengurus Ansor, makin cerdas atau dungu?” katanya.»

Ia kemudian mengaitkannya dengan istilah hirman dalam lirik Ya Lal Wathan, yang menurut penjelasannya berkaitan dengan sikap tidak peduli.

«“Seperti dalam lirik Ya Lal Wathan, ‘wala takum minal hirman’. Hirman itu maknanya dungu. Janganlah kalian menjadi orang dungu. Dungu itu bukan orang goblok, orang pintar. Hanya kadang-kadang hirman, tidak mau peduli,” ujar Prof. Atik.»

Dindin: Indonesia Harus Menentukan Posisi dalam Perkembangan AI

Sementara itu, Dindin Abdullah Ghozali menilai langkah Ansor membahas AI merupakan sesuatu yang penting sekaligus menunjukkan bahwa organisasi kepemudaan NU harus mampu membaca perubahan zaman.

Menurut Dindin, selama ini kelompok NU kerap diasosiasikan dengan pembahasan kitab kuning, tahlil, dan tradisi keagamaan. Karena itu, pembahasan teknologi mutakhir seperti AI menjadi langkah yang patut diapresiasi.

«“Kalau Ansor membahas tema teknologi terkini, AI ini adalah surprise, karena kesannya kelompok NU ini bahasannya identik kitab kuning, tahlil, dan lain-lain,” ujarnya.»

Dindin menilai perkembangan AI telah membawa perubahan di berbagai sektor, termasuk pendidikan dan industri. Teknologi tersebut dapat membantu pekerjaan akademik sekaligus meningkatkan efisiensi dalam proses produksi.

Namun, menurutnya, persoalan utama bukan sekadar apakah Indonesia mampu menggunakan AI, melainkan posisi apa yang ingin diambil Indonesia dalam ekosistem teknologi global.

«“Yang jadi pertanyaan penting, bangsa kita ini mau memosisikan sebagai apa? Apakah menjadi produsen AI, apakah menjadi pengguna AI, atau tidak jelas? Sampai hari ini tidak jelas pemerintah kita,” katanya.»

Pendidikan Harus Adaptif terhadap Perubahan Industri

Dindin juga menyoroti tantangan dunia pendidikan, khususnya ketidaksesuaian antara kompetensi lulusan dengan kebutuhan industri.

Menurutnya, institusi pendidikan yang bertugas menyiapkan sumber daya manusia harus mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan perubahan kebutuhan dunia kerja.

Ia mencontohkan pendidikan SMK yang seharusnya menjadi institusi paling dekat dengan kebutuhan industri.

 

«“Institusi pendidikan yang memproduksi SDM dibiarkan konservatif. Misalnya yang paling kontekstual dalam menghadapi dunia industri itu SMK. SMK dari dahulu begitu-begitu saja, tidak dibuat adaptif dalam menghadapi perubahan zaman dan dunia industri yang telah berubah,” ujarnya.»

Ia juga menyinggung persoalan pengangguran di Jawa Barat yang menurutnya tidak dapat dilepaskan dari persoalan mismatch antara kompetensi lulusan dan kebutuhan industri.

Dindin mencontohkan pendidikan otomotif yang menurutnya harus mengikuti perkembangan teknologi kendaraan.

«“SMK otomotif masih belajar otomotif yang jauh tertinggal, seperti masih belajar mesin karburator, sedangkan hari ini sudah beralih teknologi injeksi bahkan motor listrik. Jadi pasti tidak terserap oleh dunia industri karena tidak matching dengan kebutuhan perubahan industri,” katanya.»

Karena itu, menurut Dindin, pembangunan industri harus berjalan beriringan dengan pembangunan sumber daya manusia.

«“Industri harus dikembangkan, tapi jika SDM tidak kompatibel dengan perkembangan teknologi pasti tidak terserap oleh industri. Contohnya pengangguran di Jawa Barat 6,7 persen, sebagian besarnya disumbang oleh lulusan SMK. Seharusnya lulusan SMK disetting untuk siap kerja,” ujarnya.»

Ansor Didorong Menjadi Motor Perubahan

Diskusi Pojok Muda NU akhirnya mengerucut pada satu kesimpulan penting: AI bukan sekadar persoalan teknologi, melainkan bagian dari perubahan besar yang menyentuh pendidikan, ekonomi, ketenagakerjaan, kebudayaan, kebangsaan, dan masa depan sumber daya manusia.

Generasi muda NU dinilai tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi. Mereka harus memiliki kemampuan membaca perubahan, menguasai teknologi, menghasilkan karya, sekaligus mempertahankan nilai-nilai keilmuan dan kemanusiaan.

Dindin menilai Indonesia saat ini masih berada dalam posisi yang gamang dalam menghadapi perkembangan teknologi. Karena itu, organisasi kepemudaan seperti Ansor perlu mengambil peran lebih besar dalam mendorong perubahan.

«“Bangsa kita ini selalu berada di tengah-tengah, selalu gamang dalam menghadapi perkembangan teknologi ini. Ke depan Ansor harus melakukan perubahan,” pungkasnya.»

Melalui Pojok Muda NU, PC GP Ansor Kabupaten Bogor diharapkan mampu menghadirkan ruang diskusi yang konsisten dan terbuka bagi generasi muda untuk membicarakan isu-isu strategis masa depan.

Bukan hanya tentang bagaimana AI mengubah manusia, tetapi juga tentang bagaimana manusia—khususnya generasi muda NU—mampu menguasai teknologi, menciptakan inovasi, memperkuat kualitas SDM, serta memastikan kemajuan teknologi tetap memberikan manfaat bagi masyarakat dan bangsa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *